Arsip

Archive for the ‘Sosiologi Profetik’ Category

Facebook Merubah Cara Kita Berinteraksi

April 25, 2009 10 komentar

Oleh: Husnul Muttaqin

Dua hal merubah cara manusia berinteraksi: internet dan HP. (Kita bahas internet saja ya).

Selain software2 live chat seperti mIRC dan beberapa jenis messenger (Yahoo Messenger, Google Talk, dll), facebook muncul sebagai ikon baru persahabatan di dunia maya. Ini belum ditambah dengan beberapa situs jejaring sosial lain seperti friendster atau myspace. Agak berbeda dengan mIRC dan messenger yang tingkat keanoniman para penggunanya sangat tinggi, facebook relatif lebih menekankan keaslian identitas para penggunanya. Ini karena di facebook, orang ingin bertemu dengan teman-teman lamanya yang sudah lama berpisah. Karena itu, identitas menjadi penting, setidaknya nama dan gambar diri.

Ini berbeda dengan mIRC yang hanya memakai nick/alias sebagai identitas dalam aktifitas chatting para penggunanya. Karena tingkat ke-anonim-annya sangat tinggi, kita tidak pernah benar-benar tahu dengan siapa kita ngobrol saat menggunakan mIRC. Bahkan, setiap orang bisa mengaku sebagai wanita tanpa ada yang tahu bahwa sejatinya dia adalah makhluk berpedang. :). Coba saja baca nick-nick ini: co_cr_ce, co_yogya, satria_baja_hitam, ce_sexy, ce_imutz, cr_tmn_curhat, co_tajir, gibran dan segudang nick lain yang tidak pernah jelas siapa pemiliknya. Baca selanjutnya…

Iklan

Menuju Sosiologi Profetik

Januari 18, 2008 10 komentar

Oleh: HUSNUL MUTTAQIN

(Dimuat dalam Jurnal Sosiologi Reflektif, edisi perdana, Prodi Sosiologi Fak. Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta)

Bagi August Comte, sang pencipta istilah “sosiologi”, sosiologi adalah puncak perkembangan positivisme. Tak heran jika kemudian ilmu yang satu ini berkembang dengan corak yang sangat positivistik. Sebenarnya Comte tidak sedang mengarahkan sosiologi untuk menjadi positivistik, ia hanya menyuarakan kecenderungan zaman. Di masanya, positivisme menjadi ukuran sahih tidaknya ilmu pengetahuan. Ilmu alam menjadi model bagi orientasi ilmu tentang masyarakat yang sebelum Comte disebut sebagai “fisika sosial”, atau ilmu pengetahuan alam tentang masyarakat. Proses-proses sosial tidak lagi dianggap sebagai produk kegiatan manusia yang bebas, tapi sebagai suatu peristiwa alam. 1)

Positivisme sebenarnya hanyalah bagian saja dari sejarah narasi besar pertarungan dua pahlawan peradaban; logos dan mitos. Dalam pemikiran Barat modern, pertarungan itu menjelma menjadi pertarungan antara pendekatan ala Ilmu-ilmu alam versus pendekatan lain yang tidak memiliki basis empiris. Perkembangan segi-segi material dan empiris kebudayaan modern telah menempatkan pendekatan ala ilmu-ilmu alam (sains) pada kedudukannya sebagai logos, sang protagonis, sedang cara-cara pendekatan lain dengan spekulasi metafisis-teologis tanpa basis empiris menjadi antagonisnya, mitos. 2)

Setidaknya ada tiga pengandaian dalam ilmu-ilmu sosial positivis. Pertama, prosedur-prosedur metodologis dari ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Kedua, hasil-hasil penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk hukum-hukum seperti dalam ilmu-ilmu alam. Ketiga, ilmu-ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni, netral dan bebas nilai. 3) Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: