Arsip

Archive for the ‘Relasi Antar Umat’ Category

Agenda Reformasi Kultural Relasi Antar Umat Beragama Di Indonesia

Januari 7, 2011 1 komentar

Oleh: Husnul Muttaqin

Dimuat dalam jurnal Studi Agama MILLAH, Vol. IV, No. 1, Agustus 2004


Pengantar

Saat kita berbicara tentang agama, yang terlintas dalam benak kita adalah seperangkat nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan yang sedemikian indah, mempesona dan komprehensif. Bagaimana tidak luhur jika yang diajarkan oleh setiap agama adalah kebaikan dan menolak segala bentuk kejahatan. Bagaimana tidak humanis jika setiap agama bercita-cita untuk memanusiakan manusia, memberi makna pada kehidupannya, berbuat baik pada sesama, melarang tindakan yang membahayakan orang lain. Nilai-nilai inilah yang dalam sejarah kemanusiaan telah memoles wajah dunia menjadi lebih manusiawi.

Tapi bersamaan dengan itu, kita terpaksa harus menelan kekecewaan yang mendalam bahwa nilai-nilai luhur transendental itu tidak selamanya menjadi kenyataan kehidupan yang menyejarah. Sejarah agama justru sering kali diwarnai dengan nuansa dehumanis yang pekat, jauh dari nilai-nilai luhur yang diidealkan. Baca selanjutnya…

Dari Dialog ke Arah Kerjasama

Oleh: Husnul Muttaqin

Menarik untuk mencermati apa yang disampaikan Amin Abdullah dalam tulisannya: Kebebasan Beragama Atau Dialog Antaragama: 50 Tahun Hak Asasi Manusia. Amin menyarankan bahwa Dialog Antar Agama mensyaratkan perlunya “kerja sama” antarumat beragama. Walaupun konsep kerja sama itu tampak masih sangat jauh dari realitas (dalam realias, dialog untuk melahirkan ke-salingpaham-an saja masih sangat sulit untuk dilakukan, apalagi kerja sama), tapi konsep ini kiranya mampu menawarkan alternatif solutif untuk menyelesaikan beberapa masalah dialog antar agama di lapangan.

Satu diantara masalah paling krusial dalam Dialog Antar Agama adalah bahwa dialog-dialog itu cenderung  bersifat elitis, dalam arti tidak menyentuh akar rumput dan hanya menjadi konsumsi orang-orang yang memang sejak awal telah memiliki kesadaran akan pluralitas keberagamaan bangsa Indonesia. Sedangkan sebagian besar umat beragama yang sering kali berhadapan langsung dengan masalah-masalah di seputar ketegangan hubungan antarumat beragama tetap tidak tersentuh. Hal ini karena dialog itu lebih banyak menggarap persoalan-persoalan di seputar isu-isu teologis normatif daripada isu-isu kemanusiaan riil yang dihadapi secara bersama-sama oleh semua pemeluk agama. Akibatnya, masyarakat di akar rumput tidak pernah benar-benar merasakan manfaat dialog itu bagi kehidupan mereka. Dialog bagi mereka adalah sebuah konsep yang terlalu muluk, dan tidak pernah memberikan kontribusi apapun bagi penyelesaian persoalan-persoalan riil yang menghimpit mereka.

Kita seringkali lupa bahwa konflik-konflik agama yang terjadi tidak selalu dapat dijelaskan dengan melihat sebab-sebab yang bersifat teologis. Tak jarang konflik itu terjadi karena latar belakang ekonomi, politik atau sosiokultural tertentu yang sebenarnya tidak secara langsung berkaitan dengan teologi. Persoalan kemiskinan, kecemburuan ekonomi, ketidakadilan perlakuan di bidang politik, pendidikan adalah sebagian dari masalah sosial yang dapat membawa-bawa nama agama untuk diseret ke dalam jebakan konflik. Jadi teologi (agama) sebenarnya tidak selalu menjadi faktor utama penyebab konflik. Karena itulah dialog antaragama seharusnya juga menyentuh persoalan-persoalan riil di tengah masyarakat, bukannya terus berkutat di seputar isu-isu teologis yang tak berkesudahan.

Persoalan sosial yang dihadapi bangsa kita ini bersifat lintas agama. Kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme adalah persoalan-persoalan sosial yang tidak pandang bulu apapun agamanya. Karena itulah, agama hendaknya memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan-persoalan tersebut. Dan karena persoalan-persoalan tersebut bersifat lintas agama, maka agama-agama harus bekerjasama untuk mencari solusi terbaik. Jika dialog dalam tataran teologis lebih berorientasi ke arah ke-salingpaham-an, maka dialog antaragama dalam konteks membicarakan isu-isu riil di tengah masyarakat lebih berorientasi ke arah membangun kerja sama antarpemeluk agama untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang dihadapi.

Dengan cara semacam ini, dialog antaragama yang selama ini tidak benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah yang terhimpit berbagai macam permasalahan sosial, dapat menjalankan fungsi kemanusiaannya yang lebih riil. Perbedaan agama kemudian akan lebih dirasakan sebagai rahmat dari pada laknat. Agama akan mampu hadir dengan sosoknya yang lebih manusiawi, bukan sosok yang sering menumpahkan darah dan air mata.

%d blogger menyukai ini: