Arsip

Archive for the ‘Refleksi’ Category

Facebook Merubah Cara Kita Berinteraksi

April 25, 2009 10 komentar

Oleh: Husnul Muttaqin

Dua hal merubah cara manusia berinteraksi: internet dan HP. (Kita bahas internet saja ya).

Selain software2 live chat seperti mIRC dan beberapa jenis messenger (Yahoo Messenger, Google Talk, dll), facebook muncul sebagai ikon baru persahabatan di dunia maya. Ini belum ditambah dengan beberapa situs jejaring sosial lain seperti friendster atau myspace. Agak berbeda dengan mIRC dan messenger yang tingkat keanoniman para penggunanya sangat tinggi, facebook relatif lebih menekankan keaslian identitas para penggunanya. Ini karena di facebook, orang ingin bertemu dengan teman-teman lamanya yang sudah lama berpisah. Karena itu, identitas menjadi penting, setidaknya nama dan gambar diri.

Ini berbeda dengan mIRC yang hanya memakai nick/alias sebagai identitas dalam aktifitas chatting para penggunanya. Karena tingkat ke-anonim-annya sangat tinggi, kita tidak pernah benar-benar tahu dengan siapa kita ngobrol saat menggunakan mIRC. Bahkan, setiap orang bisa mengaku sebagai wanita tanpa ada yang tahu bahwa sejatinya dia adalah makhluk berpedang. :). Coba saja baca nick-nick ini: co_cr_ce, co_yogya, satria_baja_hitam, ce_sexy, ce_imutz, cr_tmn_curhat, co_tajir, gibran dan segudang nick lain yang tidak pernah jelas siapa pemiliknya. Baca selanjutnya…

Golput kok Dimaki-Maki!

Desember 28, 2008 5 komentar

— Husnul Muttaqin —

(Ini obrolan ringan saja, jadi kalau ada bahasa-bahasa yang agak disangat-sangatkan, harap maklumlah, gak usah tersinggung!. Mari kita mulai ngobrol!)

Saya bener-bener gak habis pikir, apa sih yang ada di kepala si Hidayat Nurwahid sampai-sampai merasa perlu untuk meminta fatwa haram golput pada MUI?

Ketika kita memutuskan untuk tidak menjatuhkan pilihan pada pilihan-pilihan yang telah disediakan seakan-akan kita bertindak subversif, berbahaya bagi kelangsungan kita sebagai bangsa. Ini karena kita begitu ketakutan dengan perbedaan. Mereka yang punya kepentingan kemudian menafsirkan kebebasan sebagai sekedar bebas memilih di antara pilihan-pilihan yang telah disediakan. Padahal sejatinya, kebebasan juga termasuk hak untuk memilih di luar pilihan yang tersedia.  Kebebasan memilih hanya didalam pilihan-pilihan yang telah disediakan pada hakekatnya tak lain adalah pemasungan yang disamarkan. Baca selanjutnya…

Antara Sex, Birahi Dan Cinta

Desember 21, 2008 7 komentar

Antara Sex, Birahi Dan Cinta
Oleh: Husnul Muttaqin

Ketika judul di atas terlintas di kepala, saya membayangkan terjadinya sebuah dialog hangat antara seorang dokter, filosof, sufi dan seorang mahasiswa. Kata sang filosof: ”Sex, birahi dan cinta adalah insting dasar manusia yang luhur”. Tak mau kalah sufi kita bertutur dengan penuh penghayatan: “Di dalam birahi, sex dan cinta aku bertemu dengan Tuhan”. Sang dokter lalu menimpali: “Birahi merupakan gejolak yang muncul akibat rangsangan yang ditimbulkan oleh reaksi hormon-hormon kedewasaan. Melalui birahi, hubungan seksual menjadi mungkin”. “Cinta? Apa ya?”, dokter kita kebingungan. Giliran mahasiswa, dia berkata dengan sangat meyakinkan: “Sex, birahi dan cinta adalah nama lain dari ranjang !”

Saya tidak tahu apakah akan banyak guna untuk mendefinisikan sex, birahi dan cinta. Kalau toh iya, definisinya bisa jadi sebanyak kepala manusia yang masing-masing punya pengalaman dan penghayatan tersendiri tentang sex, birahi dan cinta. Jika tidak, barang kali manusia memang tidak butuh definisi untuk bisa mengalami. Tapi biar bagaimanapun, tahu jauh lebih baik dari pada tidak. Setidaknya, ketika kita bertanya apa itu sex, birahi dan cinta, kita tahu apakah ketiganya memang hanya berhubungan dengan ranjang? Baca selanjutnya…

Kategori:Refleksi, Seksualitas Tag:, ,

Menyoal Kembali Budaya Seks Mahasiswa

Desember 21, 2008 Komentar dimatikan

Oleh: Husnul Muttaqin

Ditulis sekitar tahun 2002

Tulisan ini tidak hendak berbicara tentang angka atau prosentase tentang perilaku seks mahasiswa yang sering kali mencengangkan kita. Angka-angka itu sudah cukup membuat banyak pihak kebakaran jenggot, seperti penelitian Iip Wijayanto yang kemudian memicu kontroversi sengit, bahkan cenderung tidak sehat, mengancam kebebasan ilmiah dalam dunia penelitian. Dengan asumsi bahwa realitas freesex di kalangan terpelajar (mahasiswa) memang tidak dapat dipungkiri keberadaaannya, berapapun prosentase yang anda setujui, saya ingin mengajak pembaca untuk sedikit melakukan refleksi ringan atas dunia yang selama ini dipandang luhur: dunia pendidikan, dunia mahasiswa yang mewakili idealisme dan keberpihakan terhadap nilai-nilai luhur kebenaran dan moral

Seks memang sebuah misteri yang tak kunjung terpecahkan sepanjang sejarah manusia. Dahulu, seks dipandang misterius karena “dikamartidurkan”, diselimuti tanda tanya dan ketidakjelasan. Tapi publikasi wacana seks ternyata bahkan semakin mengukuhkan status misterinya. Fenomena cybersex barang kali adalah puncak absurditas perilaku seksual manusia yang sangat tidak masuk akal. Bayangkan saja, seks ditransformasikan melalui jaringan kabel dan komputer yang membentuk dunia maya (virtual reality). Mungkin karena sifat misterinya, maka ketika fakta-fakta terkuak, banyak yang tercengang, terheran-heran, tidak percaya. Demikianlah yang terjadi ketika fakta-fakta di seputar seks bebas di kalangan mahasiswa terungkap, banyak yang terperanjat. Baca selanjutnya…

Refleksi: Tanpa Isi

KOSONG

Kategori:Refleksi

Refleksi: Demi Malam

Januari 18, 2008 3 komentar

Oleh: Husnul Muttaqin

Tulisan ini ingin mengkaji beberapa persoalan sosial dilihat dari bagaimana orang mempersepsikan atau mengkonseptualisasikan malam. Mungkin terkesan mengada-ada, tapi saya akan menunjukkan bahwa konsepsi tentang malam memiliki keterkaitan dengan persoalan perilaku seks bebas dan kepercayaan mistis yang berkembang dalam masyarakat. Tulisan ini akan diakhiri dengan bagaimana Islam mengkonsepsikan malam.

Mungkin karena situasi gelap yang selalu menandai datangnya, maka malam sering dianggap menyimpan segudang misteri. Misteri adalah sesuatu yang tak terungkapkan atau sulit diungkap. Malam dianggap misteri karena segala sesuatu tiba-tiba saja diselimuti kegelapan, sehingga kita tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Tapi agaknya, malam memang menyimpan sebuah makna penting. Karenanya, bahkan Tuhanpun merasa perlu bersumpah atas nama malam. “Demi malam apabila telah berlalu”, kata Tuhan.

Di manapun, misteri selalu menggoda untuk diungkap. Justru misteri ada untuk diungkap rahasianya. Sisi menarik dari misteri adalah kemungkinan mengungkapkannya. Maka muncullah beberapa konsep sebagai upaya manusia memahami malam. Tapi karena malam sendiri adalah gelap yang menandakan ketidakjelasan,maka konsep-konsep itu lebih berfungsi sebagai mitos daripada penggambaran yang sebenarnya tentang malam. Mitos-mitos itu tumbuh subur di tengah masyarakat dan mempengaruhi, tidak hanya keyakinan tapi juga perilaku keseharian. Baca selanjutnya…

Kategori:Refleksi
%d blogger menyukai ini: