Beranda > Cyberspace > Fikih Era Cyberspace

Fikih Era Cyberspace

by. Husnul Muttaqin

Dimuat dalam Jurnal Hukum Islam, Vol. 01, No. 01, Maret 2009, Kopertais IV Surabaya, dengan judul Urgensi Pembaharuan Fiqh Era Cyberspace. Sebetulnya ditulis saat rame-ramenya fatwa facebook, cuma baru terbit sekarang, jadi agak kadaluarsa. 🙂

Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu muncul fatwa tentang Facebook. Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur mengharamkan penggunaan jejaring sosial seperti friendster dan facebook yang berlebihan. Berlebihan itu antara lain jika penggunaannya  menjurus pada perbuatan mesum dan yang tidak bermanfaat.[1] Tak ayal, fatwa keharaman facebook memicu kontroversi di media. Kontroversi terjadi karena, selain facebook sudah menjadi ikon baru persahabatan di dunia maya yang membuat jutaan penggunanya keranjingan, juga karena distorsi informasi oleh media yang cenderung hanya menekankan pada statemen keharaman facebook dan menghilangkan syarat ‘jika digunakan secara berlebihan’.

Munculnya kontroversi seputar fatwa Facebook sebetulnya semakin mempertegas kebutuhan reinterpretasi atas tafsir-tafsir agama sehingga dapat menjawab tantangan masa kini. Agama mau tidak mau harus terlibat dalam upaya menjelaskan dan mendefinisikan dunia yang terus berubah dengan sangat cepat. Keseluruhan aktifitas manusia, mulai dari eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi (mengikuti konsep Peter L. Berger tentang dialektika manusia dan masyarakat) sebetulnya tak lain adalah aktifitas mendefinisikan dan membangun dunianya.[2] Karena itu, masa depan agama akan sangat tergantung pada kemampuannya menyediakan definisi yang memuaskan bagi manusia atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Ini masa yang berbeda. Dunia sudah memasuki abad 21, bukan lagi abad 20, sayangnya kita masih seringkali berpikir dalam perspektif abad 20. Tema sentral abad 20 adalah modernisasi dan industrialisasi. Abad 21 temanya sudah bergeser pada teknologi informasi. Jika rekonstruksi pemikiran keagamaan, termasuk fikih, pada abad 20 terfokus pada bagaimana agama mampu menyediakan dasar-dasar hubungan yang progresif antara agama dan modernitas, maka di abad 21, temanya harus bergeser pada bagaimana agama memposisikan diri di era informasi.

Fikih sebagai salah satu bagian ajaran Islam yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tidak bisa tidak harus ikut serta dalam proyek reinterpretasi ajaran-ajarannya untuk menyesuaikan dengan situasi baru, nilai-nilai dan terminologi-terminologi baru era informasi. Menjelaskan situasi baru dengan cara lama hanya akan menjadikan fikih tampak sangat renta dan kadaluarsa di tengah perubahan yang sangat cepat. Tak heran jika fatwa haramnya facebook, bagi banyak orang yang akrab dengan dunia cyber, tak ubahnya sebuah lelucon kuno yang menjadi bahan tertawaan masyarakat cyber.

Era Baru, Realitas Baru

Fikih adalah cara agama menjelaskan realitas dengan pendekatan normatif. Karena itu produk-produk fikih akan sangat ditentukan oleh bagaimana pemaknaannya terhadap realitas. Di sinilah muncul persoalan, model realitas pada era modernisasi dan industrialisasi berbeda dengan model realitas pada era informasi. Pada era modernisasi, yang kita sebut realitas tidak jauh-jauh dari bagaimana produk-produk modern (nilai, ideologi, ilmu pengetahuan, teknologi) menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari di dunia nyata. Sementara era informasi mendefinisikan realitas secara berbeda. Realitas dalam era informasi tidak lebih berupa dunia citra yang diproduksi oleh media-media informasi. Dunia ini dirasakan sebagai pengalaman yang tak kalah riil dari realitas yang ada di dunia nyata. Hanya saja jika realitas di dunia nyata terdiri dari tanah, udara, air, dan seluruh makhluk hidup dengan segenap unsur biologisnya, maka realitas yang diproduksi oleh media informasi tak lebih dari pancaran dari dunia nyata atau simulasi dari tanah, air, udara dan segenap makhluk hidup yang ada di dunia nyata. Itu sebabnya kita menyebutnya dengan realitas virtual, virtual reality.

Saat kita sedang berkomunikasi via telephon genggam dengan seorang teman yang ada di seberang pulau, seakan-akan kita sedang mendengar suara teman kita itu, padahal sebetulnya yang kita dengar hanyalah pancaran gelombang elektromagnetis yang dipancarkan oleh media elektronis berupa telephon genggam. Yang benar-benar nyata hanyalah kita dan telephon genggam kita, sementara suara teman kita tak lebih dari suara yang diproduksi oleh telephon genggam kita setelah menerima gelombang suara dari pulau seberang. Ada anekdot menarik. Seorang remaja bercerita pada temannya bahwa ia menelephonnya tadi malam, tapi yang menjawab malah ibunya. “Apa kata ibu?”, tanya temannya. “Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk”, jawabnya. Inilah realitas virtual. Walaupun kita mengalaminya tak ubahnya seperti kita mengalami dunia nyata, tapi sebetulnya ia hanya simulasi dari realitas yang dipancarkan oleh media-media elektronik.

Penggambaran paling jelas dari realitas virtual kita temukan dalam dunia cyber (cyberspace). Cyberspace menawarkan sebuah dunia alternatif tempat manusia hidup. Dunia ini berupa dunia maya yang dapat mengambil alih realitas di dunia nyata, yang bagi banyak orang bahkan terasa lebih nyata dari kenyataan di dunia nyata, lebih menyenangkan dari kesenangan di dunia nyata, lebih fantastis dari semua fantasi yang pernah dirasakan manusia di dunia nyata, lebih menggairahkan dari semua kegairahan yang pernah ada.[3]

Kita tengah memasuki sebuah dunia baru, dunia maya, yang dapat kita alami dalam tingkat pengalaman yang sama dengan dunia nyata. Apapun yang dapat kita lakukan di dunia nyata dapat juga kita lakukan di dunia maya, yang bisa jadi terasa lebih nyata dari kenyataan. Bahkan, apa yang di dunia nyata hanya berupa imajinasi, ilusi dan fantasi, di dunia cyber bisa diwujudkan dalam “realitas” dengan bantuan teknologi simulasi.

Yasraf A. Piliang menggambarkan dunia baru ini dengan sangat ekspresif:

Bumi memang masih bulat, tetapi ia kini tak lebih besar dari sebuah bola kaki. Manusia memang masih berkaki dua, tetapi kini ia tak perlu lagi menggunakan kaki tersebut untuk “berjalan-jalan”. Bangunan gedung memang masih berdiri megah, tetapi kita cukup menghuni “bangunan” yang ada di dalam halusinasi kita. Akuarium memang masih berbentuk kotak, tetapi ia tidak lagi memerlukan air dan ikan yang nyata. Anak-anak kita memang masih senang bermain, tetapi kini mereka cukup bermain dengan teman-teman maya mereka di dalam jagat raya video game.[4]

Jika di dunia nyata, anda harus menempuh perjalanan sangat jauh hanya untuk menemui seorang kawan lama, di dunia cyber anda cukup membuka Yahoo Messenger atau mIRC dan anda bisa ngobrol sepuasnya. Anda dan kawan anda dapat mengobrol layaknya sedang bertemu di dunia nyata. Anda dapat mengetahui kawan anda sedang marah, senang, senyum atau bahkan ngantuk dan ingin tidur hanya dengan menaruh jari-jari anda di papan ketik, dan mengetikkan simbol-simbol yang biasa dipakai dalam aktifitas chatting. Bahkan dengan bantuan fasilitas webcam anda bisa bercakap-cakap dengan kawan anda layaknya bertatap muka. Anda dapat melihat wajahnya dan dia dapat melihat wajah anda. Internet menghadirkan kawan anda, yang berada ribuan kilometer dari tempat anda, persis di depan mata anda. Dia hadir di depan anda sebagai realitas yang tidak bisa anda abaikan begitu saja, karena dia sangat nyata walaupun hanya berupa tampilan grafis yang dimungkinkan tercipta dengan bantuan teknologi komputer multimedia dan koneksi internet.

Menarik memperhatikan salah satu iklan operator selluler yang dapat dijumpai di jalan raya. “Mencolek teman di jalanan hanya 5000 sebulan”, bunyi iklan itu. Ya, iklan itu menjelaskan layanan salah satu operator selluler yang bekerjasama dengan facebook, salah satu situs jejaring sosial paling laris di dunia. Di facebook, anda dapat mencolek (poke) teman anda, tentu secara digital. Bukan hanya mencolek, anda juga bisa berjabat tangan, mengirim hadiah ulang tahun, mengirim kue, dan hal-hal lain selayaknya hubungan dua sahabat di dunia nyata. Bukankah ini tidak nyata, virtual reality? Benar, tapi yang tidak nyata di jagad raya cyberspace bisa jadi lebih nyata dari kenyataan sekalipun. Jadi jangan heran jika anda pernah membaca berita seorang suami marah-marah pada istrinya hanya gara-gara sang istri dicolek oleh lelaki lain di facebook. Bahkan, ada pasangan suami-istri yang sampai memutuskan mengakhiri hubungan hanya karena sang istri mencantumkan status lajang di facebook.

Hampir semua hal yang bisa dilakukan di dunia nyata telah dapat digantikan melalui aktivitas di dunia virtual. Bahkan, berhubungan seks pun bisa dilakukan. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Ini dunia dimana tidak ada lagi batasan aktifitas manusia, semua bisa dilakukan. Kita hanya tinggal merubah perspektif kita tentang kenyataan. Kenyataan tidak lagi hanya berupa sesuatu yang bisa diraba secara fisik, tapi dapat juga berlangsung secara digital via cyberspace. Hubungan seksual tidak hanya bisa terjadi melalui pertemuan biologis dalam dunia nyata tapi bisa berlangsung secara digital. Bukankah ini tidak nyata? Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.

Ada beberapa bentuk aktifitas seksual via internet. Pertama, menonton gambar atau video porno. Ini mudah dipahami. Kedua, chat sex, atau obrolan erotis. Dua orang berlainan jenis, terpisah dalam jarak yang tak jarang sangat jauh dan hanya dihubungkan dengan jaringan internet melakukan aktifitas seksual layaknya dua orang yang sedang berhubungan seksual di dunia nyata, walaupun hanya melalui obrolan. Yang mengherankan, walapun sejatinya dihadapan mereka hanya ada daftar kata-kata yang tampil pada monitor, tapi mereka bisa mendapatkan kenikmatan seksual, bahkan sampai mengalami orgasme. Tak heran banyak orang kecanduan dengan aktifitas chatting di internet. Masih berpikir ini tidak nyata? Ketiga, sama dengan aktifitas kedua, bedanya mereka memakai webcam sehingga masing-masing dapat melihat wajah atau seluruh tubuhnya melalui layar monitor. Dapat ditebak, ini bisa lebih riil dari yang kedua. Bahkan, aktifitas seks jenis ketiga ini dapat dijadikan sebagai media pelacuran di dunia cyber. Seorang perempuan menawarkan diri sebagai pemuas seksual, tentu melalui kamera. Dan siapapun yang berkeinginan memakai jasanya harus mentransfer sejumlah uang via internet. Jika transfer diterima, sang penjaja seks cyber ini akan dengan senang hati melayani apapun permintaan pemakai jasanya. Tentu saja semua berlangsung secara digital, tanpa pertemuan biologis apapun antara keduanya.

Saya teringat dengan salah satu film Sylvester Stallone yang pernah saya saksikan di salah satu stasiun televisi beberapa tahun lalu. Adegan yang menariknya begini. Saat Sylvester Stallone sedang berhubungan seksual dengan rekan wanitanya, yang mereka lakukan bukan buka baju dan seterusnya, tapi mereka duduk di dua kursi yang berbeda dengan pakaian lengkap, memakai penutup kepala (helm) yang terhubungkan satu sama lain melalui jaringan kabel, dan… hubungan seksual pun dilakukan secara digital tanpa beranjak dari tempat duduknya. Selanjutnya, terjadilah orgasme. Yang lebih menarik, orgasmenya pun tidak ditandai dengan keluarnya cairan, tapi terjadi secara digital, orgasme digital. Ah, ada-ada saja. Sebuah film yang sangat futuristik.

Inilah yang disebut virtual reality, sebuah realitas baru era informasi. Tujuan utama Virtual Reality pada dasarnya adalah untuk menciptakan ilusi keterlibatan dalam sebuah lingkungan yang dapat dirasakan sebagai tempat yang sebenarnya, dengan sejumlah interaktifitas yang cukup untuk melakukan tugas-tugas tertentu dengan cara yang efisien dan menyenangkan.[5]

Mengacu pada definisi kamus, virtual dapat diartikan menjadi sesuatu tapi hanya dalam bentuk efek dan tidak dalam kenyataan atau tidak sesuai dengan definisi umum tentang kenyataan. Sementara reality diartikan sebagai eksistensi nyata atau sesuatu yang aktual.[6] Jika digabung virtual reality dapat dimaknai dengan eksistensi yang riil dalam efek tapi tidak dalam kenyataan.

Menurut Michael Heim, virtual reality memiliki beberapa sifat. Pertama, Simulation. Realitas virtual berbentuk simulasi dari kehidupan nyata. Jika tampak sesosok manusia, ini hanyalah simulasi dari manusia yang sebenarnya, dalam bentuk grafis. Jika terdengar suara manusia, ini hanya simulasi suara manusia yang diproduksi oleh teknologi simulasi. Kedua, Interaction. Virtual reality menawarkan interaksi antara pengguna dengan dunia virtual. Kita dapat menghadiri kuliah dalam sebuah universitas secara online tanpa harus hadir di kelas yang sesungguhnya. Kita juga dapat bersosialisasi dengan komunitas maya seperti situs-situs jejaring sosial (facebook, friendster, my space, twitter, dan lain-lain), mailing list atau chatting. Ketiga, Artificiality. Kenyataan yang ditawarkan virtual reality sesungguhnya hanyalah kenyataan buatan, semuanya hasil konstruksi manusia. Keempat, Immersion. Masuk dalam virtual reality berarti terlibat didalamnya, merasa seakan hidup dalam alam virtual. Jika dalam realitas virtual, kita sebagai penjaga sebuah toko elektronik, maka kita akan sepenuhnya terlibat dalam pengelolaan toko, mulai dari menata barang-barang, melayani customer, sampai mengirim barang-barang yang dipesan customer. Ini yang disebut dengan the illusion is immersion. Kelima, Telepresence. Virtual Reality memungkinkan kita hadir dari jarak jauh tanpa harus berada di dalamnya secara fisik. Hadir di sini berarti bahwa kita tahu dan sadar dengan apa yang terjadi, dapat melakukan sesuatu dengan cara mengamati, meraih, memegang dan memindahkan sesuatu dengan tangan kita sendiri seakan kita berada di dekatnya. Keenam, Networked Communications. Dalam dunia virtual, komunikasi selalu dijalankan dengan menggunakan jaringan komputer. Artinya, orang tidak bertemu langsung dalam sebuah komunikasi, tapi hanya melalui jaringan komputer, persis seperti dua orang yang sedang berbicara via telephone. [7]

Realitas Baru, Interpretasi Baru

Fikih tentu saja tidak bisa lepas dari konteks sosio kulturalnya. Produk-produk hukum Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan situasi sosio kultural dimana hukum itu diciptakan. Dalam sejarah hukum Islam kita mengenal qaul qadim dan qaul jadid yang merupakan usaha Imam Syafi’i untuk menyesuaikan dengan situasi baru. Suatu ajaran agama dapat berfungsi dan terasa dibutuhkan dalam kehidupan yang terus berubah jika di dalam agama itu terdapat ruang bagi gerak dan dinamika kehidupan.[8] Ini artinya, realitas menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan sebuah ketentuan hukum. Jika realitas berubah, maka reinterpretasi atas produk hukum harus dilakukan untuk menjamin bahwa produk hukum yang tersedia mampu memberikan jawaban yang memuaskan atas perkembangan realitas terkini.

Sebagai cara mendefinisikan realitas dengan pendekatan normatif, fikih memiliki kedudukan yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Ini karena fikih banyak bersentuhan dengan realitas kehidupan sehari-hari umat Islam. Itu sebabnya seharusnya fikih menjadi bidang studi yang paling cepat perkembangannya dalam Islam karena realitas yang dihadapi oleh fikih semakin lama semakin cepat berubah. Dalam kenyataannya, perkembangan fikih lebih banyak berkutat pada penambahan produk-produk hukum sebagai respon atas realitas baru yang muncul, sementara metode penetapan hukumnya justru tidak banyak berubah.

Di tengah situasi ini, muncul perkembangan terbaru yang bisa kita sebut sebagai revolusi atas realitas. Revolusi itu merubah secara drastis pemaknaan kita atas realitas. Cyberspace merubah pengalaman orang bersentuhan dengan realitas, merubah cara kita mengalami realitas. Realitas tidak hanya berisi segala sesuatu yang nyata tapi juga dapat berupa realitas imajiner, realitas virtual yang ternyata memberikan pengalaman yang tak kalah nyata dengan realitas yang sebenarnya. Realitas baru ini menawarkan sebuah dunia baru, sebuah dunia tanpa batas yang mampu menggantikan apapun yang dapat kita lakukan di dunia nyata, bahkan lebih jauh ia mampu menawarkan apa yang dalam dunia nyata hanya berupa imajinasi dan halusinasi. Inilah zaman baru, zaman ketika dunia ini terbagi dalam dua realitas; realitas “nyata” dan realitas maya atau realitas virtual (virtual reality).

Tentu saja zaman baru berarti tantangan baru bagi fikih. Fikih selama ini hanya disiapkan untuk menjelaskan realitas dalam dunia nyata. Fikih adalah penjelasan normatif atas apapun yang terjadi dalam dunia nyata. Bagaimana dengan realitas maya? Realitas ini jelas sekali berbeda dengan realitas “nyata”. Karena itu fikih memerlukan pendekatan dan cara baru untuk menjelaskan dunia baru ini, virtual reality. Memakai metode dan cara lama untuk menjelaskan realitas yang sama sekali berbeda memunculkan sebuah pertanyaan besar akan kemampuannya untuk menjelaskan masalah yang terjadi secara memuaskan.

Munculnya fatwa haram terhadap facebook yang digunakan untuk tujuan pendekatan terhadap lain jenis jelas sekali didasarkan atas pemaknaan terhadap realitas jenis pertama, realitas “nyata”. Padahal, yang sedang dihadapi adalah realitas jenis kedua, realitas maya atau realitas virtual. Masalahnya adalah apa yang terjadi di dunia maya tidak sama dengan yang terjadi di dunia nyata. Karena itu, pendefinisian atas aktifitas-aktifitas atau momen-momen yang terjadi dalam dunia maya harusnya juga berbeda dengan pendefinisian atas aktifitas yang sama yang dilakukan dalam dunia nyata. Tulisan ini tidak hendak menilai apakah fatwa haram facebook untuk pendekatan terhadap lain jenis itu benar atau salah. Tulisan ini hanya hendak mengajukan sebuah proposal bahwa memaknai “pendekatan terhadap lain jenis” harusnya tidak sama antara yang terjadi di dunia maya dengan dunia nyata. Dalam dunia nyata, aktifitas ini menghendaki kehadiran orang secara fisik, sementara dalam dunia maya orang tidak perlu hadir secara fisik. Sudahkah ini semua menjadi pertimbangan hukum dalam memunculkan fatwa keharaman facebook?.

Mari melihat beberapa contoh lain. Seorang gamer memainkan game online pada bulan puasa. Dalam game yang dimainkan, ia harus makan dan minum untuk menjamin bahwa karakter di game yang ia perankan akan tetap mendapatkan energy untuk terus hidup dalam permainan virtual ini. Persoalan ini jelas sangat mudah dari sisi fikih, karena aktifitas makan dan minum yang ia lakukan hanya sebatas aktifitas virtual. Tapi bagaimana dengan aktifitas seksual dalam dunia cyber, atau yang dikenal dengan istilah cybersex? Dua orang berlainan jenis yang berada di dua benua yang berbeda dapat melakukan hubungan seksual layaknya suami istri, tentu saja secara digital. Persoalan ini menjadi kompleks karena kita tidak bisa begitu saja menyamakan aktifitas cybersex dengan aktifitas makan dan minum virtual. Walaupun dua-duanya terjadi secara virtual alias maya, tapi fikih tidak bisa membenarkan aktifitas cybersex begitu saja hanya karena tidak benar-benar terjadi. Realitas virtual yang tampak dari aktifitas cybersex memiliki tingkat kenyataannya sendiri yang bisa jadi bahkan terasa lebih nyata dari aktifitas seksual dalam kehidupan sehari-hari. Cyber Prostitution misalnya tidak bisa dianggap bukan persoalan hanya karena terjadinya secara digital, maya, dan bukan pelacuran sebenarnya. Di pihak lain, menyamakan saja aktifitas seksual di dunia maya dengan aktifitas seksual di dunia nyata jelas salah Kaprah. Perzinaan dan prostitusi di dunia cyber jelas tidak sama dengan perzinaan dan prostitusi di dunia nyata.

Fenomena inilah yang, menurut hemat penulis, perlu disikapi dengan mereformulasi metode fikih untuk memaknai realitas. Pemaknaan atas realitas yang biasa dipakai untuk memahami kehidupan dalam dunia nyata tidak bisa lagi dipakai untuk memaknai realitas dalam dunia maya atau cyberspace. Dua realitas ini memiliki karakternya masing-masing, sehingga perlu dibedakan.

Penutup

Dunia ke depan kira-kira tak jauh beda dengan apa yang pernah digambarkan dalam film-film futuristik seperti Eagle Eye atau Die Hard 4, dimana kekuasaan telah berpindah dari tangan negara ke tangan para jedi cyberspace. Cyberspace yang semula dipandang kalah nyata dibanding kenyatan hidup sehari-hari berbalik menguasai dunia nyata. Di masa depan kehidupan kita akan dikendalikan oleh jaringan komputer yang terhubung dari seluruh dunia. Uang fisik tak diperlukan lagi karena kita bisa bertransaksi melalui uang elektronik. Ini sudah dimulai. Jika kita ingin mengetahui identitas seseorang, kita tinggal mengetikkan namanya saja karena seluruh data kependudukan online dapat diakses seluruh dunia. Ini sudah dimulai. Jika kita mau belanja, tidak perlu susah-susah cari kendaraan untuk pergi ke toko, cukup buka laptop, koneksi internet, belanja sepuasnya, dan simsalabim.., barang-barang yang anda pesan akan datang persis di depan pintu rumah anda. Ini sudah dimulai. Makin lama hidup kita akan semakin digital. Dunia maya akan menjadi jauh lebih nyata dari kenyataan hidup sehari-hari. Itu artinya, hidup kita akan semakin banyak dikelilingi oleh virtual reality.

Di tengah situasi dunia seperti ini, umat Islam butuh panduan yang memadai untuk dapat digunakan dalam mengarungi dunia yang baru, dunia yang membagi realitas menjadi dua; realitas “nyata” dan realitas virtual yang semakin lama semakin susah dibedakan. Fikih sebagai bidang yang sangat dekat dengan hidup manusia sehari-hari dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan situasi baru ini. Para ahli fikih tidak bisa terus tinggal dalam tafsir dan definisi-definisi lama tentang realitas. Memakai cara lama untuk menjelaskan realitas baru jelas tidak memadai. Kita butuh fikih baru, fikih era cyberspace.


DAFTAR PUSTAKA

Berger, Peter L. (1991). Langit Suci, Agama sebagai Realitas Sosial (The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory at Religion). Jakarta : LP3ES.

Gutiérrez, Mario A., at.all. (2008). Stepping into Virtual Reality. London: Springer.

Heim, Michael. 1993. The metaphysics of virtual reality. New York: Oxford University Press, Inc.

Kompas, 22 Mei 2009.

Microsoft® Encarta® Reference Library 2005. CD-ROM Editions. USA: Microsoft Corporation, 2005

Nafis, M. Wahyuni, dkk (ed). (1995). Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA. Jakarta: Paramadina.

Slouka, Mark. (1999). Ruang Yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace Yang Merisaukan. Bandung: Mizan.


[1] Kompas, 22 Mei 2009.

 

[2] Eksternalisasi adalah suatu pencurahan kedirian manusia secara terus-menerus ke dalam dunia, baik dalam aktifitas fisik maupun mentalnya. Okyektivasi terjadi ketika produk dari aktifitas-aktifitas tersebut membentuk suatu fakta (faktisitas) yang bersifat eksternal. Kebudayaan adalah bentuk obyektivasi. Internalisasi adalah penerapan kembali realitas tersebut oleh manusia dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia obyektif ke dalam struktur kesadaran subyektif. Peter L. Berger. (1991). Langit Suci, Agama sebagai Realitas Sosial (The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory at Religion). Jakarta : LP3ES. 4-24.

[3] Yasraf Amir Piliang, “Sebuah Jagat Raya Maya: Imperialisme Fantasi dan Matinya Realitas”, pengantar dalam Mark Slouka. (1999). Ruang Yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace Yang Merisaukan. Bandung: Mizan. 14.

[4] Ibid. 13.

[5] Mario A. Gutiérrez A. at.all. (2008). Stepping into Virtual Reality. London: Springer. 2.

[6] Microsoft® Encarta® Reference Library 2005. CD-ROM Editions. USA: Microsoft Corporation, 2005

[7] Michael Heim. 1993. The metaphysics of virtual reality. New York: Oxford University Press, Inc. 110-116.

[8] K.H. Ali Yafie, “Reaktualisasi Hukum Islam di Indonesia”, dalam M. Wahyuni Nafis, dkk (ed). (1995). Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA. Jakarta: Paramadina. 300.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: