Beranda > Obrolan Ringan, Refleksi, Seksualitas, Sosiologi Profetik > Facebook Merubah Cara Kita Berinteraksi

Facebook Merubah Cara Kita Berinteraksi

Oleh: Husnul Muttaqin

Dua hal merubah cara manusia berinteraksi: internet dan HP. (Kita bahas internet saja ya).

Selain software2 live chat seperti mIRC dan beberapa jenis messenger (Yahoo Messenger, Google Talk, dll), facebook muncul sebagai ikon baru persahabatan di dunia maya. Ini belum ditambah dengan beberapa situs jejaring sosial lain seperti friendster atau myspace. Agak berbeda dengan mIRC dan messenger yang tingkat keanoniman para penggunanya sangat tinggi, facebook relatif lebih menekankan keaslian identitas para penggunanya. Ini karena di facebook, orang ingin bertemu dengan teman-teman lamanya yang sudah lama berpisah. Karena itu, identitas menjadi penting, setidaknya nama dan gambar diri.

Ini berbeda dengan mIRC yang hanya memakai nick/alias sebagai identitas dalam aktifitas chatting para penggunanya. Karena tingkat ke-anonim-annya sangat tinggi, kita tidak pernah benar-benar tahu dengan siapa kita ngobrol saat menggunakan mIRC. Bahkan, setiap orang bisa mengaku sebagai wanita tanpa ada yang tahu bahwa sejatinya dia adalah makhluk berpedang. :). Coba saja baca nick-nick ini: co_cr_ce, co_yogya, satria_baja_hitam, ce_sexy, ce_imutz, cr_tmn_curhat, co_tajir, gibran dan segudang nick lain yang tidak pernah jelas siapa pemiliknya.

Interaksi manusia semakin maya saja. Celakanya, semakin maya justru terlihat semakin nyata, seksi dan mengasyikkan. Tak heran, banyak orang kecanduan. Saat masih di Jogja, saya punya teman yang jauh lebih mudah ditemui di warnet daripada di kosnya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk chatting di warnet. Bahkan suatu ketika, dia ditangkap polisi karena kedapatan membobol ATM temannya. Tentu saja, uang hasil bobol ATM dia pakai untuk chatting karena uang kiriman orang tuanya sudah lebih dulu habis di warnet.

Sekarang ada facebook. facebook seakan menjadi ikon baru gaya hidup modern. Ketinggalan jaman klo gak ngefacebook. Indonesia salah satu negara pengguna facebook terbesar. Dimana-mana terjadi demam facebook. Bahkan beberapa kantor menerapkan kebijakan memblokir situs facebook karena para pegawainya lebih asyik ngefacebook daripada menghasilkan karya-karya produktif. Interaksi kita mengalami pergeseran.
Dulu dosen dan mahasiswa hanya bertemu di dalam kelas atau di kampus. Kini, para mahasiswa mengajak dosen-dosennya berteman di facebook. Ada nuansa yang lebih egaliter di sana. Di facebook, orang bertemu untuk berteman. Karena itu kesediaan seorang dosen untuk menerima permintaan pertemanan dari mahasiswanya mengindikasikan adanya suatu dekonstruksi hubungan dosen dan mahasiswa. Bayangkan saja, seorang mahasiswa yang menjadi teman saya di facebook mengajak saya untuk mengikuti kuis: “Hantu apakah yang dekat dengan kamu?”. Ini tidak biasa terjadi di luar dunia facebook.

Di kampus-kampus luar negeri memang hubungan dosen dan mahasiswa tak ubahnya hubungan pertemanan biasa tapi di Indonesia fenomena ini relatif baru, kecuali di beberapa kampus besar seperti UGM atau UI. Saya sendiri kebetulan pernah merasakan kuliah S1 di UGM dan IAIN. Jadi saya merasakan perbedaan. Di UGM, nuansanya lebih egaliter. Dosen tak ubahnya teman biasa. Memanggil dosen dengan Mas dan Mbak itu biasa. Di IAIN berbeda, hubungan dosen dengan mahasiswa cenderung lebih feodal. Dosen diposisikan lebih tinggi daripada mahasiswa.

Nah, cerita tentang mahasiswa yang meminta saya mengikuti kuis “Hantu apakah yang dekat dengan kamu?” itu terjadi di IAIN Sunan Ampel. Ini menarik karena terjadi di kampus yang ketika saya bilang pada mahasiswa-mahasiswa saya bahwa mereka dapat menganggap saya sebagai teman biasa, bahkan mereka tidak harus memanggil dengan panggilan “Pak” yang agak sakral itu, mereka tampak terheran-heran, setengah tidak percaya. “Gak sopan pak”, kata mereka. Maklum sebagian besar mereka berasal dari pesantren yang memandang ustadz-ustadz mereka dengan begitu ta’zim. Bahkan tak jarang sebagian dari mereka masih membawa-bawa tradisi pondok ke kampus, seperti mencium tangan para dosen, sebagaimana mereka biasa mencium tangan para kyai atau ustadz mereka di pesantren. Saya agak risih ketika ada mahasiswa yang ingin mencium tangan saya. Padahal berulang kali saya katakan pada mereka jangan pernah lagi mencium tangan saya. Sampai-sampai, setengah bergurau, saya bilang pada mereka “haram” mencium tangan saya. Tapi, ada juga yang menganggap saya benar-benar bergurau sehingga masih juga mau mencium tangan saya. Ah…, dasar otak pesantren!. Di pesantren, semakin anda rendah hati, semakin anda dianggap mendekati tingkat kewalian. HAHAHAHA…!

Jadi, facebook membantu proses desakralisasi hubungan dosen dan mahasiswa di IAIN SA. Saya gak perlu repot-repot untuk menjelaskan bahwa tidak perlu lagi menganggap dosen sebagai sosok yang maha tinggi seperti di masa lalu. Saya gak perlu susah-susah membentuk iklim yang memungkinkan ada suasana egaliter hubungan dosen dan mahasiswa, karena di facebook, semua orang adalah teman. Di facebook, anda bisa minta dosen anda mengerjakan kuis “Hantu apakah yang dekat dengan kamu?” Ah, facebook memang ada-ada saja!.

Itu sisi positifnya. Bagaimana dengan negatifnya?. Anda tentu tahu bahwa facebook hanya menampilkan wajah-wajah ceria yang relatif beruntung. Anda dan saya termasuk sebagian dari orang-orang yang beruntung. Di facebook, kita tidak bisa menemukan teman-teman kita yang nasibnya tidak seberuntung kita. Kita tidak bisa menemukan di facebook wajah Lintang, si jenius Laskar Pelangi, yang terpaksa menjadi sopir truck karena tuntutan ekonomi. Tidak ada nama Harun, anggota Laskar Pelangi yang memiliki keterbatasan mental, di facebook. Di facebook, dunia ini indah, penuh berisi wajah-wajah ceria. Nah, Saya khawatir, karena begitu gandrungnya kita dengan facebook, kita mengira dunia ini memang seperti facebook, isinya hanya keceriaan. Kita mengira, facebook  ini memang benar-benar dunia nyata, isinya tanah, air, udara seperti dunia di luar facebook. Kita lupa, bahwa senyata apapun kenyataan di dunia facebook, ia tetaplah maya. Maklumlah, kemayaan adalah satu jenis kenyataan juga, bahkan seringkali terasa jauh lebih nyata dari kenyataan sekalipun, terutama bagi para penggila facebook seperti Anda. :).

Saya khawatir jangan-jangan facebook justru semakin membuat kita jauh dari kenyataan bumi ini, kenyataan(-nya) Lintang, Harun, Bu Muslimah, para TKW kita yang disiksa di negeri orang dan kenyataan-kenyataan lain yang tak kalah memprihatinkan.

Dunia elektronik yang ditawarkan internet menyimpan potensi keterhanyutan. Semakin kita akrab dengan dunia yang satu ini, semakin besar kemungkinan kita tercebur dan terhanyut di dalamnya. Semakin dekat kita, semakin susah kita untuk membedakan mana realitas maya, mana realitas sesungguhnya, karena realitas maya seringkali tampak lebih realistis dari realitas itu sendiri.

Semakin lama realitas maya akan menjadi semakin nyata. Dan itu artinya, pada saat yang sama realitas (kenyataan) di sekitar kita pun akan semakin banyak dipenuhi oleh kanyataan maya. Bahkan, bisa-bisa bukan hanya hubungan antara manusia sehari-hari yang akan semakin tergantikan dengan interaksi di dunia maya, tapi bahkan hubungan seks pun akan menjadi semakin maya, elektronis dan digital. Orang bisa saja mengalami orgasme hanya dengan chatting seks melalui mIRC. Saya jadi teringat dengan salah satu film Sylvester Stallone yang pernah saya saksikan di salah satu stasiun televisi. Adegan yang menariknya begini. Saat Sylvester Stallone sedang berhubungan seksual dengan rekan wanitanya, yang mereka lakukan bukan buka baju dan blab la bla, tapi mereka duduk di dua kursi yang berbeda dengan pakaian lengkap, memakai penutup kepala yang terhubungkan satu sama lain melalui jaringan kabel, dan… hubungan seksual pun dilakukan secara digital tanpa beranjak dari tempat duduknya. Selanjutnya, terjadilah orgasme. Yang lebih menarik, orgasmenya pun tidak ditandai dengan keluarnya cairan, tapi terjadi secara digital, orgasme digital. Ah, ada-ada saja. Sebuah film yang sangat futuristik.

Iklan
  1. Rifki
    Mei 9, 2009 pukul 1:54 am

    Sip…bwat nyadarin org yg uda terbuai di alam maya..mkc

  2. vrina novita indriasari
    Mei 9, 2009 pukul 9:09 am

    buat ak pesbuk mbantuin banget untuk sekedar refreshing dikala bete apalagi ak yg baru punya baby ga bisa gitu aja pergi2 maen ke rumah temen. so dgn adanya pesbuk bisa tetep hub ma temen2 sambil ngasuh baby dan ngerjain kerjaan rmh. Tapi hidup tetep harus imbang so ga melulu ngandalin pesbuk juga untuk sosialisasi, saat ada waktu dan kesempatan tetep sosialisasi face to face in the real world

  3. Mei 10, 2009 pukul 1:24 pm

    Boleh boleh aja akrab dengan dunia maya, tapi jangan lupa dengan dunia nyata, jangan sampe yang nyata menjadi maya atau yang maya menjadi nyata ok kan. yang penting hidup ini harus saling menimbangi.

  4. bunbun
    Mei 11, 2009 pukul 11:47 am

    gpp n sah sah aja semua orang ikutan yang lagi “trend” , apalagi bisa jadi ajang temu kangen sama konco lawas atau jalin persahabatan dengan yang baru -baru , asal ……
    foto – foto yang ditampilkan jangan yang agak- agak terbuka alias berbau porno gitu … kan ngundang yang lihat jadi …… , dan harus ditumbuhkan dlm pikiran bahwa ini akan dilihat orang diseluruh belahan , gimana kalo anaknya , ponakkannya , suaminya atau istrinya , ortu n mertuanya lihat … atw membaca komentar orang lain seperti menyanjung padahal disitu sudah terbentuk nilai yang …. r e n d ah (melecehkan diri ) ???
    kasihan kan ….

  5. engkos
    Mei 24, 2009 pukul 2:15 pm

    pada dasarnya kita bisa membaca/komunikasi melalui fesbook dengan bebas, tapi jangan lalu kebebasan itu sgalanya; ada satu sisi yang memang bermanfaat tapi ada juga yg tdk bermanfaat,untuk itu jenis manfaatnya dan negatifnya jangan dilihat dari satu sisi saja sehingga kita terjebak kepada permasalahan yang tidak lengkapmengambang.

  6. arifin
    Juni 2, 2009 pukul 11:31 am

    Facebook merubah cara kita berinteraksi, itu saya kira tidak terlalu dipermasalahkan, karena facebook hanya salah satu dari bebrapa media komunikasi dengan beberapa fitur yang sedikit lebih lengkap dari pada HP. Dan sebenarnya facebook mempermudah kita untuk berkomunikasi dengan orang lain dalam jarak jauh serta kita bisa bertukar cerita,opini,kenalan,cari pacar atw membaca komentar orang lain, itu juga kurang tidak perlu terlalul di kaji, karena seperti alasan yang saya sebut diatas, yaitu facebook hanya sebagian dari beberapa media komunikasi,

    Hanya saja menurut saya yang perlu diperhatikan dengan hadirnya facebook adalah seperti apa wabah facebook bagi masyarakat?

  7. adib
    Juni 3, 2009 pukul 3:35 am

    kalau menurut saya ne, dunia internet saat ni bukan hanya sebaghai dunia maya, tetapi merupakan sebagai dunia nyata yang memang betul – betul ada, namun yang jadi persoalan adalah ketika kita terlalu asik dengan dunia internet tersebut kita akan menjadi pendiam, karena pola interaksi kita mulai berubah, yang biasanya kita berkomunikasi secara verbal terus diganti dengan komunikasi tertulis.
    selain itu juga budaya budaya kekeluargaan pun juga ikut terpengaruh,
    kapan kapan nyambung lagi ya………………..!!!!!!!!
    oh ya, kalau kita meneliti sebuah konflik, enaknya kita memakai teori apa ya pak ?

  8. zikri
    Juli 6, 2009 pukul 8:11 pm

    demam facebook melanda indonesia mari kita terima dengan cerdas saja…! yg terpengaruh negatif akan kehadiran facebook berarti gk cerdas hehehehe……!

  9. Indri
    September 5, 2009 pukul 5:03 pm

    GoOd DeCh Pak…
    MoGa KiTa MeNerIma FB DenGan MamFaat YanG BaIk
    N MenJadi TemPaT AjanG SilatuRRoHim ….

  10. Februari 19, 2011 pukul 11:03 pm

    Kata Niklas Luhman “Medium is the message”, pak…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: