Beranda > Obrolan Ringan, Refleksi > Golput kok Dimaki-Maki!

Golput kok Dimaki-Maki!

— Husnul Muttaqin —

(Ini obrolan ringan saja, jadi kalau ada bahasa-bahasa yang agak disangat-sangatkan, harap maklumlah, gak usah tersinggung!. Mari kita mulai ngobrol!)

Saya bener-bener gak habis pikir, apa sih yang ada di kepala si Hidayat Nurwahid sampai-sampai merasa perlu untuk meminta fatwa haram golput pada MUI?

Ketika kita memutuskan untuk tidak menjatuhkan pilihan pada pilihan-pilihan yang telah disediakan seakan-akan kita bertindak subversif, berbahaya bagi kelangsungan kita sebagai bangsa. Ini karena kita begitu ketakutan dengan perbedaan. Mereka yang punya kepentingan kemudian menafsirkan kebebasan sebagai sekedar bebas memilih di antara pilihan-pilihan yang telah disediakan. Padahal sejatinya, kebebasan juga termasuk hak untuk memilih di luar pilihan yang tersedia.  Kebebasan memilih hanya didalam pilihan-pilihan yang telah disediakan pada hakekatnya tak lain adalah pemasungan yang disamarkan.

Jadi, meminta fatwa haram bagi golput sama artinya dengan meminta agama untuk memasung kebebasan warga negara dalam menyuarakan kata hatinya. Melarang golput sama artinya menolak demokrasi. DAN…, mangharamkan golput sama artinya dengan menyeret agama untuk terlibat dalam upaya untuk meruntuhkan demokrasi.

Jadi, ijinkan saya bertanya sekali lagi pada Bung Hidayat Nurwahid (yang sebetulnya termasuk satu dari segelintir pemimpin bangsa ini yang sangat saya hormati), apa sih yang ada dalam tempurung kepala Anda?

Malang bener nasib kita sebagai rakyat. Kita terus yang disalahkan. Kalau golput menang dimana-mana, kita juga yang disalahkan. Kita ini kan Bos yang dipermainkan oleh anak buah kita. Iya, karena rakyat kan bos, mereka kan cuma wakil kita. Jadi, anggota DPR/MPR itu ya anak buah kita. Tapi, dasar nasib, walaupun sejatinya kita bosnya, tetep saja yang disalahkan kita. Parahnya lagi yang nyalah-nyalahin justru anak buah kita sendiri, para wakil rakyat itu.

Padahal yang bersalah atas pembengkakan angka golput itukan mereka sendiri, bukan kita. Kita golput karena mereka nggak becus memimpin bangsa ini. Kita golput karena setelah kita pilih, mereka justru memperjuangkan kepentingan diri mereka sendiri, bukan kepentingan kita sebagai bos mereka. Kita golput karena kita sudah bosan dengan janji-janji perubahan yang tak kunjung dipenuhi. Kita golput karena di saat kita ribut-ribut berebut sembako, mereka malah sibuk bagi-bagi uang. Kita golput karena persoalan-persoalan kita hanya diselesaikan di ruang loby, padahal kita tahu persis ruang loby itu ya isinya bagi-bagi kekuasaan dan tentu saja duit. Jadi kalau para wakil kita itu berdebat hebat di ruang rapat, jangan terburu-buru kagum betapa mereka tak kenal lelah memperjuangkan nasib kita, karena setelah itu mereka akan selesaikan di rung loby dan setelah masuk ruang sidang kembali, mereka pun kemudian tenang-tenang saja seolah tidak ada apa-apa. Kita golput karena di saat kita susah karena harga-harga kebutuhan hidup naik, minyak tanah langka, gas langka, bencana ada dimana-mana, mereka malah sibuk bertengkar satu sama lain. Kita golput karena di saat rakyat mulai susah, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka justru sibuk membahas kenaikan gaji dan tunjangan mereka yang selama ini sudah keterlaluan besarnya. Kita golput karena di saat kita mengharap mereka datang berkunjung ke dapur-dapur kita yang sudah tidak lagi mengepul, ke tempat-tempat pengungsian kita akibat bencana, ke pemukiman-pemukiman kumuh kita di pinggir-pinggir kali, agar mereka tahu nasib kita yang sebenarnya, mereka malah asyik plesir ke luar negeri dengan dalih studi banding yang gak pernah jelas apa hasilnya. Kita golput karena di saat kita berharap banyak, sebagian dari mereka bikin skandal seksual (sebetulnya saya ingin bilang “sibuk dengan urusan kelamin” tapi gak enak sama anak saya, ntar dia protes “kok bapak ngomongnya gak sopan!”).

Kalau kemudian rakyat marah, dan memutuskan untuk golput, tidak lagi mau memilih mereka sebagai wakil, alias anak buah atau pelayan rakyat, kita malah dimaki-maki, dimarah-marahi, disalah-salahkan, bahkan diharam-haramkan. Sebetulnya siapa sih Bosnya?, Kita atau mereka? Dunia ini bener-bener jungkir balik. Kita berada dalam sebuah negara yang sedang mabok berat, BBM, Bener-bener Mabok.

Jadi kalau ingin memperbaiki nasib bangsa ini, ya jangan golput yang dimaki-maki, apalagi sampe dinajis-najiskan. Tapi para wakil kita itulah yang harusnya memperbaiki diri, memperbaiki kinerja mereka, memperjuangkan kepentingan rakyat. Jika wakil kita itu sudah mampu menunjukkan kinerjanya yang memuaskan, jika para pemimpin kita itu sudah mampu membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan bukan kepentingan mereka sendiri tapi kepentingan kita sebagai rakyat, maka rakyat pun dengan sendirinya akan memilih mereka lagi. Golput akan berkurang.

Jadi golput itu harusnya dijadikan otokritik bagi bangsa ini. Para pemimpin bangsa ini harus mengambil pelajaran dari membengkaknya angka golput dalam berbagai pilkada di Indonesia. Karena rakyat, ketika memutuskan golput, sebetulnya juga ingin memberi pelajaran pada para pemimpin bangsa ini, bahwa jika para pemimpin dan wakil rakyat itu berani mengkhianati suara rakyat, maka rakyat sendiri yang akan menghukum mereka.

JADI, DENGAN GOLPUT SEBETULNYA RAKYAT CUMA INGIN MENUNJUKKAN SIAPA BOS YANG SEBENARNYA pada mereka-mereka yang selama ini merasa menjadi bos rakyat padahal mereka sejatinya hanya pembantu dan pelayan rakyat saja.

Iklan
  1. ali kholidin
    Mei 21, 2009 pukul 1:06 pm

    good cak…aku setuju, aq jg g prnah cap jempol alias g prnah nyoblos cos wis males mlht anak2 buah kita yg terlalu sok

  2. engkos
    Mei 24, 2009 pukul 2:27 pm

    “golput” tdk /bukan solusi dan juga bukan edukasi politik yg memberikan untung pada kemajuan bangsa, tapi justru mengundang dan memberikan peluang kepada penjajah memanfaatkan momentum kekosongan hasil suatu proses politik di negeri ini. anak bangsa mari kita belajar bijak untuk menyikapi,mengaktualisasikan diri demi kemajuan bangsa yang berbudi luhur serta menjunjung cita2bangsa yang mulia dan memilih,membaikan,mengingatkan para terpilih untuk memiliki kepemimipinan yang sidiq,amanah,tablig dan fatonah. selamat berjuang dan gunakan hak pilih kita untuk menentukan negara kita yang bersatu,berdaulat adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan yang berdasarkan Pancasila dan uud 45.

  3. Husnul Muttaqin
    Mei 24, 2009 pukul 9:39 pm

    @engkos. Golput bisa jadi solusi untuk memperbaiki bangsa ini. Adalah irrasional dan tidak realistis jika kita membayangkan akan terjadi kekosongan, karena mustahil semua orang golput. Akan tetap ada yang memilih dengan jumlah yang relative signifikan. Hanya saja semakin besar jumlah golput maka siapapun yang terpilih, legitimasinya akan berkurang. Karenanya, dia tidak akan berani bermain2 dengan rakyat jika tidak ingin rakyat menghunuskan pedang ke mukanya. Jadi, mari kita kampanyekan golput sehat!.

  4. Februari 19, 2011 pukul 10:59 pm

    Tapi, di UU Pemilu, berapa pun jumlah pemilih, pemerintahan tetap sah, pak.
    Gimana nih? Sia2 donk golput…

  5. Husnul Muttaqin
    Februari 20, 2011 pukul 8:51 pm

    Mnrt saya UU-nya sudah benar karena kalau sampai terjadi kekosongan pemerintahan, potensi chaos akan sangat besar, bisa berbahaya bagi kelangsungan bangsa. Disamping ongkos sosial politik yang sangat besar, ongkos ekonomi berupa pembengkakan anggaran pemilu ulang juga bisa menyedot uang negara yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain.
    Itu sebabnya, mencurigai golput sebagai tindakan subversif jelas tdk berdasar, karena besarnya golput tdk dapat menyebabkan terjadinya ekkosongan pemerintahan. Dengan golput, kita sebetulnya ingin menegaskan pada para penguasa yang terpilih bahwa kita punya kekuatan dan akan bergerak ketika mereka mencurangi kita, agar mereka tidak main-main dengan nasib bangsa ini. Jadi sama sekali tdk ada kaitannya dengan tindakan makar seperti yang selama ini dengan begitu paranoid dikoar-koarkan oleh Orde Baru dan para pendukung setianya, bahkan sampai saat ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: