Beranda > Refleksi, Seksualitas > Menyoal Kembali Budaya Seks Mahasiswa

Menyoal Kembali Budaya Seks Mahasiswa

Desember 21, 2008

Oleh: Husnul Muttaqin

Ditulis sekitar tahun 2002

Tulisan ini tidak hendak berbicara tentang angka atau prosentase tentang perilaku seks mahasiswa yang sering kali mencengangkan kita. Angka-angka itu sudah cukup membuat banyak pihak kebakaran jenggot, seperti penelitian Iip Wijayanto yang kemudian memicu kontroversi sengit, bahkan cenderung tidak sehat, mengancam kebebasan ilmiah dalam dunia penelitian. Dengan asumsi bahwa realitas freesex di kalangan terpelajar (mahasiswa) memang tidak dapat dipungkiri keberadaaannya, berapapun prosentase yang anda setujui, saya ingin mengajak pembaca untuk sedikit melakukan refleksi ringan atas dunia yang selama ini dipandang luhur: dunia pendidikan, dunia mahasiswa yang mewakili idealisme dan keberpihakan terhadap nilai-nilai luhur kebenaran dan moral

Seks memang sebuah misteri yang tak kunjung terpecahkan sepanjang sejarah manusia. Dahulu, seks dipandang misterius karena “dikamartidurkan”, diselimuti tanda tanya dan ketidakjelasan. Tapi publikasi wacana seks ternyata bahkan semakin mengukuhkan status misterinya. Fenomena cybersex barang kali adalah puncak absurditas perilaku seksual manusia yang sangat tidak masuk akal. Bayangkan saja, seks ditransformasikan melalui jaringan kabel dan komputer yang membentuk dunia maya (virtual reality). Mungkin karena sifat misterinya, maka ketika fakta-fakta terkuak, banyak yang tercengang, terheran-heran, tidak percaya. Demikianlah yang terjadi ketika fakta-fakta di seputar seks bebas di kalangan mahasiswa terungkap, banyak yang terperanjat.

Dunia mahasiswa memang memiliki dinamikanya sendiri. Dunia yang mewakili kritisisme dan aktifisme sosial ternyata menyimpan sisi gelap yang benar-benar suram. Kritisisme yang begitu hidup menghadapi ketidakadilan, kesewanangan atau eksploitasi terhadap manusia dan kemanusiaan, ketika berhadapan dengan hingar-bingarnya kehidupan seksual seolah-olah mati tanpa daya, terkena serangan “impotensi” serius. Barang kali dalam pandangan mereka kehidupan seksual memang tidak membutuhkan sikap kritis. Yang kini melumpuhkan aktifisme mahasiswa bukan semprotan gas air mata Brimob, tapi semprotan parfum Paris. Daya juang mahasiswa sebagai pejuang hak asasi manusia tidak lagi diuji di ruang interogasi markas Kodim atau Polres, tapi di plaza, café, diskotek, atau kamar kos yang kerap menjadi tempat paling kondusif bagi ekspresi seksualitas bebas bersama pasangannya.

Kita layak bertanya heran, kenapa justru di dunia pendidikan, potret moralitas seksual menjadi begitu suram dan kusut?. Apa yang salah dengan pendidikan kita?. Kita memang tidak dapat sepenuhnya menyalahkan sistem pendidikan, tapi refleksi kritis terhadapnya kiranya akan lebih baik daripada secara apriori membiarkan pendidikan berlepas tangan dari tanggung jawabnya untuk ikut serta mengawal moralitas kamanusiaan agar tetap beradab.

Sistem pendidikan kita agaknya menganut dikotomi antara otak dan hati, antara pengetahuan dan kesadaran. Kerja otak adalah mengkonstruksi pengetahuan dan kerja hati adalah memunculkan kesadaran. Aktifitas berpikir (kerja otak) adalah primadona pendidikan. Di bangku-bangku kuliah kita diajari, bahwa untuk menjadi beradab kita harus memiliki ilmu pengetahuan. Karenanya aktifitas berpikir menjadi penting. Dimensi hati yang memunculkan kesadaran lalu menjadi anak tirinya, terabaikan. Dikotomisasi antara otak dan hati membuat aspek pengetahuan terpisah dari kesadaran. Kita tahu tidak berarti kita sadar. Demikianlah, pengetahuan akan peradaban, harkat dan martabat manusia tidak membuat kita memiliki kesadaran untuk menjaga peradaban, harkat dan martabat manusia agar tidak jatuh menjadi bersifat kebinatangan. Pengetahuan akan sakralitas dan keluhuran nilai-nilai seksualitas sebagai sarana manusia untuk mempertahankan eksistensinya di bumi ini tidak dengan sendirinya memunculkan kesadaran untuk menjaga nilai-nilai seksualitas agar tetap bermartabat. Sebagai imbasnya, merebaknya kehidupan seks bebas justru dikalangan mahasiswa atau pelajar yang seharusnya menjadi penjaga moralitas seksual manusia.

Tentu saja, seperti yang telah kita tegaskan, sistem pendidikan tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Banyak faktor lain yang ikut menyebabkan merebaknya perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa, bahkan lebih besar. Kita perlu menyadari bahwa memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang Perguruan Tinggi dapat kita baca dari sisi lain sebagai penundaan terhadap perkawinan. Itu berarti dari sudut kehidupan seks, semakin besar kesenjangan bio-sosial (bio-sosial gap). Bertambah besar kesenjanga antara kematangan biologis dengan pernikahan sebagai sarana pemuasan nafsu seks yang secara sosial direstui.

Dewasa ini, menikah dalam usia dini dianggap bermasalah. Karenanya bertambahnya kesenjangan bio sosial banyak dipuja-puji, terutama oleh para penganjur program Keluarga Berencana. Sementara di sisi lain, rangsangan-rangsangan seks bertambah semarak, semakin bertubi-tubi. Hampir tiada hari tanpa rangsangan seksual dari berbagai media: koran, majalah, tabloid, internet, VCD/DVD porno, ponsel dan sebagainya. Komersialisasi seks meraja lela. Para mahasiswa dan remaja menghadapi godaan serius. Film, musik, radio, bacaan, TV, internet, VCD porno mengajarkan bahwa seks itu indah, romantis, merangsang, menggairahkan serta menjanjikan kenikmatan tiada tara. Maka runtuhlah daya tahan mereka. Perilaku seks bebas merebak, bahkan seolah menjadi gaya hidup baru. Damikianlah salah satu sisi gelap kehidupan mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi kekuatan moran masyarakat. Sangat ironis memang.

Tampaknya, persepsi masyarakat terhadap seks telah banyak berubah. Dahulu, dimensi prokreasi (seks sebagai sarana untuk melanjutkan keturunan) dipandang sebagai fungsi utama seks, sehingga harus diwadahi dalam perkawinan. Kini, fungsi rekreatiflah yang ditonjolkan sehingga untuk memperoleh kenikmatan seks seseorang tidak harus menikah terlebih dahulu. Ia dapat mengakses kenikmatan seksual dengan pacar atau menggunakan jasa para pelacur. Bahkan seks tidak jarang dipandang sebagai cara ampuh untuk membina relasi bisnis atau sekedar persahabatan.

Pandangan terhadap seks seperti ini menyebabkan seks tidak lagi harus dikorelasikan dengan tenggung jawab. Bermain seks tisak berarti harus bertanggng jawab sehingga seks bisa dilakukan dengan siapa saja: pacar, teman, relasi bisnis, pelacur atau bahkan dengan orang yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Banyaknya kasus-kasus aborsi, atau penyekit menular seksual adalah realitas ikutan (dampak) dari sikap seperti ini.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Ini pertanyaan yang cukup pelik karena kompleksitas persoalannya. Satu hal yang kiranya dapat dijadikan pijakan bahwa usaha unutk mencari solusi dalam upaya mengembalikan moralitas seksual kepada martabat kemanusiaannya haruslah menjadi usaha kolektif yang berangkat dari kesadaran semua pihak. Tulisan ini ingin mengacu pada beberapa kerja sosial yang barang kali dapat dijadikan alternatif solutif.

Pertama, seks memang tidak perlu dijadikan hanya sebagai wacana kamar tidur. Wacana seks seharusnya dapat dibuka secara lebih luas sehingga terdapat ruang-ruang publik untuk membicarakan persoalan-persoalan seksualitas yang lebih bermoral dan luhur. Karenanya publikasi wacana seks seyogyanya menekankan pada dimensi edukatifnya. Selama ini yang kita saksikan adalah publikasi wacana seks yang justru lebih menonjolkan dimensi rangsangan, gairah, godaan dan kenikmatannya seperti yang kita saksikan melalui iklan, tobloid, internet dan media lainnya, sehingga publikasi wacana seks justru mengakibatkan terjadinya gelombang gairah untuk mereguk kenikmatan seksual sebabas-bebasnya, bukannya perilaku seks yang bertanggung jawab dan bermoral.

Kedua, pendidikan kiranya dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam upaya untuk mencari solusi bagi persoalan moralitas seksual masyarakat modern, terlebih dunia pendidikan sendiri juga “bermasalah” dengan persoalan ini. Pendidikan harus mampumenciptakan kesadaran akan perlunya menjaga keluhuran nilai-nilai seksual, dan bukan hanya memproduksi pengetahuan tentang seksualitas. Nilai-nilai modernitas telah mereduksi seksualitas menjadi semata-mata persoalan kenikmatan biologis, bersifat material. Apa yang kita sebut peradaban modern telah mencampakkan aspek-aspek filofofis dari seksualitas. Kiranya, dimensi yang lebih dalam inilah yang perlu diangkat kembali untuk menumbuhkan kesadaran akan perlunya menjaga perilaku seks yang lebih bermoral.

Ketiga, perlu diadakan perubahan perspektif dalam upaya penanggulangan masalah-masalah seksualitas. Lembaga-lembaga yang konsen dalam persoalan seksualitas selama ini tampaknya lebih berusaha untuk mengamankan seks bebas daripada menyelesaikan persoalan seks bebas itu sendiri. Mereka menyerukan penanggulangan AIDS, kahamilan di luar nikah atau aborsi, tapi tidak menyentuh persoalan yang sebenarnya lebih mendasar, perilaku seks bebas. Maka muncullah anjuran-anjuran: “jangan gonta ganti pasangan!” (Artinya, walaupun tidak nikah asalkan dilakukan dengan hanya satu pasangan tidak menjadi soal), atau “pakailah kondom!”. Melaui kampanye kondomisasi atau pemakaian kontrasepsi, seolah-olah ingin dikatakan kepada kita, “nikmatilah kehidupan seksual sebebas-bebasnya, dan mari kita hindarkan kehamilan atau AIDS melalui kondom atau kontrasepsi”.

Perspektif ini perlu kita rubah. Kampanye untuk menyelesaikan persoalan seksualitas bukan hanya diarahkan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh perilaku seks bebas tetapi terutama pada perilaku seks bebas itu sendiri, sehingga seruannya tidak berbunyi “setialah pada pasangan anda atau pakailah kondom!”, tapi “mari kita bina kehidupan seksual yang lebih beradab, bermoral, bertanggung jawab dan mampu mengangkat harkat dan martabat manusia dan kemanusiaannya!”. Begitulah kira-kira bentuk seruannya.

Iklan
%d blogger menyukai ini: