Beranda > Refleksi, Seksualitas > Antara Sex, Birahi Dan Cinta

Antara Sex, Birahi Dan Cinta

Antara Sex, Birahi Dan Cinta
Oleh: Husnul Muttaqin

Ketika judul di atas terlintas di kepala, saya membayangkan terjadinya sebuah dialog hangat antara seorang dokter, filosof, sufi dan seorang mahasiswa. Kata sang filosof: ”Sex, birahi dan cinta adalah insting dasar manusia yang luhur”. Tak mau kalah sufi kita bertutur dengan penuh penghayatan: “Di dalam birahi, sex dan cinta aku bertemu dengan Tuhan”. Sang dokter lalu menimpali: “Birahi merupakan gejolak yang muncul akibat rangsangan yang ditimbulkan oleh reaksi hormon-hormon kedewasaan. Melalui birahi, hubungan seksual menjadi mungkin”. “Cinta? Apa ya?”, dokter kita kebingungan. Giliran mahasiswa, dia berkata dengan sangat meyakinkan: “Sex, birahi dan cinta adalah nama lain dari ranjang !”

Saya tidak tahu apakah akan banyak guna untuk mendefinisikan sex, birahi dan cinta. Kalau toh iya, definisinya bisa jadi sebanyak kepala manusia yang masing-masing punya pengalaman dan penghayatan tersendiri tentang sex, birahi dan cinta. Jika tidak, barang kali manusia memang tidak butuh definisi untuk bisa mengalami. Tapi biar bagaimanapun, tahu jauh lebih baik dari pada tidak. Setidaknya, ketika kita bertanya apa itu sex, birahi dan cinta, kita tahu apakah ketiganya memang hanya berhubungan dengan ranjang?

Kiranya makna paling mendasar dari seksualitas adalah kemungkinan untuk perjumpaan atau kebersatuan dari perbedaan antara pria dan wanita. Kata sexuality berasal dari bahsa Latin secare: memotong, memisahkan. (Magnis Suseno; 1991) Makna yang sepintas justru bertolak belakang dengan makna perjumpaan. Mari kita lihat. Manusia pada mulanya berasal dari satu jenis (nafs wahidah/QS. 7:189, 4: 1). Kemudian, terpisah menjadi laki-laki dan perempuan. Karenanya keduanya kemudian cenderung untuk kembali bersatu. Jadi, kebersatuan pria dan wanita pada hakikatnya adalah untuk mencapai kesempurnaan dan kesejatian kemanusiaan sebagaimana awal mula kejadian. Kata Martin Burber, manusia menjadi AKU karena orang lain menjadi ENGKAU. Manusia menjadi manusia sungguh-sungguh karena perjumpaan. Dalam konteks seksualitas, AKU dan ENGKAU adalah pria dan wanita. Pria menjadi pria karena berjumpa dengan wanita, demikian sebaliknya. Di dalam seks, perbedaan diperlukan untuk dapat mengalami perjumpaan. Seks menyatukan kembali dari keterpisahan. Bentuk paling kongkritnya adalah kebersatuan biologis dalam persetubuhan.

Apakah seks itu berguna?. Anda tidak perlu repot-repot berpikir filosofis karena jawabannya mudah: iya!. Pertama, prokreasi (wa bassa minhuma rijalan kasiran wa nisa’an/QS. 4:1). Kedua, rekreasi (liyaskuna ilaiha/QS. 7:189, atau waja’ala bainakuma mawaddatan wa rahmatan). Prokreasi dapat dipandang sebagai fungsi dasar dari seksualitas karena ada pada setiap makhluk hidup. Pada binatang, insting seksual terarah dengan ketat pada fungsi dasar ini (saya tidak tahu, apakah binatang juga mendapatkan kesenangan rekreatif ketika terjadi kontak kelamin?. Mungkin anda lebih tahu dari saya). Pada manusia, prokreasi dan rekreasi adalah dua fungsi yang sangat penting walaupun tetap dapat dipisahkan. Kenikmatan seksual dapat dijadikan tujuan dalam isolasi. Di sinilah muncul persoalan. Ketika kenikmatan seksual dijadikan sebagai satu-satunya tujuan, terjadilah eksploitasi dan pengobyekan. Pasangan dilihat sebagai semata-mata sarana untuk memuaskan nafsu seksual, sebagai obyek seks. Kedua belah pihak sepakat untuk saling mamanfaatkan, atau salah satu pihak memanfaatkan yang lain. Saling mengeksploitasi atau eksploitasi sepihak. Seks menjadi sebentuk relasi kuasa. Dalam keadaan seperti ini, siapapun pasangannya tidak lagi penting, karena yang paling penting adalah sensasi dan kenikmatan seksual. Terjadilah apa yang kita sebut sebagai free sex dalam beragam modelnya.

Yang hilang dari perilaku seksual semacam ini adalah pemaknaan, sesuatu yang khas manusia. Seksualitas menjadi sepotong realitas tanpa jiwa. Definisi seks menjadi sekedar pertemuan dua daging yang diiringi dengan sensasi hormonal, lengkap dengan nafas yang menggebu serta bunyi-bunyian yang menggoda. Berawal dari birahi dan berakhir dengan orgasme. Tidak lebih, tidak kurang. Kita dapat menyebutnya birahi. Celakanya, birahi merupakan bentuk perilaku seks yang paling mudah dimengerti dan paling banyak dilakukan.

Sekarang mari kita lihat, apa sesungguhnya nilai atau makna seks bagi manusia. Setidaknya ada tiga makna. Pertama. Tanggung jawab. Kedua, salah satu bentuk ekspressi cinta. Terakhir, makna spiritual.

Relasi seks selalu melibatkan pihak lain (Sehingga dalam masturbasi pun, orang sering menvisualisasikan adanya pihak lain yang terlibat, melaui bayangan ataupun sosok). Karena melibatkan pihak lain maka tanggung jawab menjadi penting. Macamnya adalah tanggung jawab terhadap pasangan, terhadap akibat hubungan seksual dan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial dibutuhkan karena seks bukan sekedar urusan pribadi, tapi lebih-lebih adalah urusan kemanusiaan dan eksistensi manusia. Kenyataan bahwa relasi seks selalu melibatkan pihak lain sudah menunjukkan sifat sosialnya, sehingga faktor masyarakat menjadi penting. Ketiga tanggung jawab itu realisasi kongkritnya adalah perkawainan. Hubungan seks di luar perkawinan adalah tak bertanggung jawab.

Seks juga merupakan salah satu bentuk ekspresi cinta. Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu menyadari satu hal bahwa ada perbedaan prinsipil antara sex dan cinta. Sex tidak bisa tidak pasti terkait dengan dimensi fisik atau biologis. Tidak demikian halnya dengan cinta. Cinta tidak selalu harus dikaitkan dengan dimensi fisik. Cinta memang bisa muncul dari pesona fisikal, tapi cinta lebih tinggi darinya. Maka Anda tidak perlu heran, jika ada sepasang manusia yang secara fisikal tampaknya tidak sekufu tapi saling mencintai dengan sepenuh ketulusan. Itulah cinta. Ia pada hakikatnya berhubungan dengan hati atau perasaan. Perasaan tidak pernah mempunyai hukum ataupun teori yang baku. Cinta membawa rasa kebersatuan, kesejiwaan. Cinta menyertakan rasa saling berbagi, memahami, berkorban dan saling menyerahkan diri. Jika pada cinta, kebersatuan itu terjadi pada rasa batin, maka seks dalam bentuknya yang paling vulgar adalah kebersatuan biologis. Seksualitas merupakan sarana ungkapan perjumpaan yang paling mendalam dan total dalam dimensi kejasmanian. Perjumpaan intim jasmaniyah dapat menjadi sarana ekspresi paling kongkrit dari keintiman batiniah dalam cinta. Seksualitas memungkinkan persatuan yang paling erat dan eksklusif antara pria dan wanita. Seksualitas membuka makna dan keluhurannya, dan betul-betul membahagiakan dan mempersatukan, apabila dijalankan sebagai puncak saling penyerahan dan penerimaan diri dalam cinta. Seksualitas hanya akan menunjukkan keindahannya kalau ia merupakan sarana dan bukan tujuan dari cinta. Jadi jika anda mereduksi cinta menjadi semata persoalan seks, anda telah gagal memahami cinta. Anda bukan saja lupa bahwa sex sekedar sarana, tapi anda bahkan menganggap sex adalah cinta itu sendiri. maka muncullah persoalan hilangnya keperawanan dan keperjakaan, sebuah persoalan penting yang celakanya oleh sebagian orang tidak lagi dipandang sebagai persoalan.

Hubungan seksual merupakan puncak saling penyerahan diri. Maka, hubungan seksual hanya wajar dan dapat dibenarkan terjadi hanya dalam konteks perkawinan, karena di dalam perkawinanlah terjadi penyerahan diri secara penuh baik secara psikologis, biologis, resmi dan sosio definitif, juga yuridis. Saat memulai hubungan seksual bukan pada permulaan, melainkan pada puncak hubungan antara pria dan wanita yang diekspresikan melalui pernikahan.

Kini, tiba saatnya kita membahas persoalan yang paling pelik dan membingungkan, makna spiritual seks atau seks sebagai sarana pengungkapan spiritualitas. Yang harus Anda siapkan untuk memahami persoalan ini adalah segenap perasaan dan potensi spiritual Anda di atas logika dan rasionalitas. Sudah siap?. Mari kita bahas!.

Pertama, seksualitas dalam hubungannya dengan sifat kemahapenciptaan Tuhan. Ini masih cukup mudah dipahami. Seks erat kaitannya dengan prokreasi sebagai fungsi paling dasar dari seks. Prokreasi berhubungan dengan munculnya atau terciptanya manusia baru. Melalui seksualitas, Tuhan memutar narasi besar penciptaan atas kosmos dan mikrokosmos. Sehingga ketika sepasang suami istri sedang melakukan hubungan seksual, sesungguhnya pancaran spiritual dari sifat kemahapenciptaan Tuhan sedang menyertai aktifitas mereka. Karenanya, seks menjadi sakral. Maka, jika Anda sudah menikah, dan hendak melakukan hubungan seks bersama pasangan Anda, pesan saya bacalah do’a terlebih dahulu, jangan terburu-buru.

Kedua, pada tingkat yang lebih tinggi dan paling sulit dimengerti, pengalaman seksual memberikan kesempatan untuk mengalami apa yang oleh Ibnul ‘Arabi disebut sebagai “pengungkapan diri terbesar” Tuhan. Seluruh kosmos ini adalah pengungkapan diri Tuhan, dan pengungkapan diri terbesar dari Tuhan adalah penglaman seksual. Dari sudut pandang ini, dimensi prokreasi menjadi bukan satu-satunya dimensi seks yang mampu mengantarkan kita pada perjumpaan dengan Tuhan, tapi lebih dari itu aktifitas seksual itu sendiri, dengan segenap cita rasa dan pesonanya, justru dapat mengantarkan kita pada penyaksian Tuhan dalam tingkat yang tertinggi. Saya yakin, Anda sangat senang dengan kabar ini karena dengan seks pun Anda bisa mengalami mi’raj ruhani, atau orgasme spiritual. Tapi, saya ingin menyampaikan sedikit kabar buruk, bahwa menurut Ibnul ‘arabi, penyaksian Tuhan dan pencerahan jiwa melalui aktifitas seksual itu tidak mungkin dilakukan oleh kebanyakan orang. Pengalaman ini hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah mencapai kesempurnaan bentuk ilahi yang tersembunyi dalam diri mereka sendiri.

Kedua makna spiritual inilah yang memberikan nilai kudus dan sakral pada seksualitas. Seksualitas merupakan sesuatu yang sangat sakral, karenanya kesakralannyapun tidak boleh dirusak dengan perilaku yang tidak suci dan amoral. Jika terjadi, maka seksualitas menjadi sekedar kemampuan biologis manusia yang tak ada bedanya dengan hewan. Media pertama untuk menjaga kesucian seks adalah perkawinan, yang bukan hanya merupakan ikatan sosial tapi juga transendent karena dilakukan dengan kalimat Allah.

Jadi, mari kita buat rumusannya: Sex, cinta dan perkawinan bersatu memantulkan wajah Tuhan.

 disampaikan dalam diskusi reguler eLK@STra pada tanggal 13 Oktober 2002.

BAHAN BACAAN

Ahmad Najib Burhani, “Cinta dan Spiritualitas”, http://www.satunet.com sabtu, 11 Nopember 2000

Erich Fromm, The Art of Loving, Harper & Row, Publishers, Inc, 1956, telah diindonesiakan oleh Syafi’ Alielha dengan judul sama, Jakarta: Fresh Book, 2002.

Franz Magnis Suseno, at. all., Etika Sosial, Jakarta: Gramedia, 1991.
FX. Rudi Gunawan, Krisis Orgasme Nasional, Yogyakarta, Galang Press, 2002

Jean Baudrillard, Berahi, Yogyakarta: Bentang, 2000

Sachiko Murata, The Tao of Islam, Bandung: Mizan, 1996

Iklan
Kategori:Refleksi, Seksualitas Tag:, ,
  1. zikri
    Juli 6, 2009 pukul 9:39 pm

    saya setuju….! sex adalah sebuah sarana saja…! yg mesti kita lakukan dengan mengambil 50% rasa cinta,40% sayang,dan 10% nafsu ….!
    upzzz bener gk sih heheheh ….?

  2. Juni 2, 2010 pukul 2:51 pm

    dalam psikologi muda mudi memang tujuan cinta adalah sex, jadi aku setju banget dengan argumen tersebut di atas…..

  3. ade
    Juni 16, 2010 pukul 10:42 am

    betul…betul..betul…

  4. Husnul Muttaqin
    Juni 24, 2010 pukul 3:11 pm

    @ade irma ani. hehehhe. apanya yg betul ade?

  5. Husnul Muttaqin
    Juni 24, 2010 pukul 3:13 pm

    @amin. ya tdk semua pemuda/di memaknai cinta sebagai sex. Banyak juga yg memahaminya dengan cara yang benar, seperti Amin, ya gak Min? 🙂

  6. Desember 10, 2010 pukul 1:34 pm

    assalamu alaikum….!
    waduh pak jujur ketika saya membaca pertama kali judulnya saya tertarik dan setelah membacanya saya merasa bahwa selama ini saya kurang bisa memahami sepenuhnya apa itu sex, birahi dan cinta dan setelah saya baca dari catatan bpk saya sekarang sudah sedikit mendapatkan pencerahan dan berharap banyak untuk bisa menjadi orang yang berada di jalan yang sudah di tentukan-Nya amin….

  7. Juli 13, 2014 pukul 4:13 pm

    I am really thankful to the holder of this web site who has shared this enormous article at here.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: