Arsip

Archive for Januari, 2008

Refleksi: Tanpa Isi

KOSONG

Iklan
Kategori:Refleksi

Refleksi: Demi Malam

Januari 18, 2008 3 komentar

Oleh: Husnul Muttaqin

Tulisan ini ingin mengkaji beberapa persoalan sosial dilihat dari bagaimana orang mempersepsikan atau mengkonseptualisasikan malam. Mungkin terkesan mengada-ada, tapi saya akan menunjukkan bahwa konsepsi tentang malam memiliki keterkaitan dengan persoalan perilaku seks bebas dan kepercayaan mistis yang berkembang dalam masyarakat. Tulisan ini akan diakhiri dengan bagaimana Islam mengkonsepsikan malam.

Mungkin karena situasi gelap yang selalu menandai datangnya, maka malam sering dianggap menyimpan segudang misteri. Misteri adalah sesuatu yang tak terungkapkan atau sulit diungkap. Malam dianggap misteri karena segala sesuatu tiba-tiba saja diselimuti kegelapan, sehingga kita tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Tapi agaknya, malam memang menyimpan sebuah makna penting. Karenanya, bahkan Tuhanpun merasa perlu bersumpah atas nama malam. “Demi malam apabila telah berlalu”, kata Tuhan.

Di manapun, misteri selalu menggoda untuk diungkap. Justru misteri ada untuk diungkap rahasianya. Sisi menarik dari misteri adalah kemungkinan mengungkapkannya. Maka muncullah beberapa konsep sebagai upaya manusia memahami malam. Tapi karena malam sendiri adalah gelap yang menandakan ketidakjelasan,maka konsep-konsep itu lebih berfungsi sebagai mitos daripada penggambaran yang sebenarnya tentang malam. Mitos-mitos itu tumbuh subur di tengah masyarakat dan mempengaruhi, tidak hanya keyakinan tapi juga perilaku keseharian. Baca selanjutnya…

Kategori:Refleksi

Menuju Sosiologi Profetik

Januari 18, 2008 10 komentar

Oleh: HUSNUL MUTTAQIN

(Dimuat dalam Jurnal Sosiologi Reflektif, edisi perdana, Prodi Sosiologi Fak. Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta)

Bagi August Comte, sang pencipta istilah “sosiologi”, sosiologi adalah puncak perkembangan positivisme. Tak heran jika kemudian ilmu yang satu ini berkembang dengan corak yang sangat positivistik. Sebenarnya Comte tidak sedang mengarahkan sosiologi untuk menjadi positivistik, ia hanya menyuarakan kecenderungan zaman. Di masanya, positivisme menjadi ukuran sahih tidaknya ilmu pengetahuan. Ilmu alam menjadi model bagi orientasi ilmu tentang masyarakat yang sebelum Comte disebut sebagai “fisika sosial”, atau ilmu pengetahuan alam tentang masyarakat. Proses-proses sosial tidak lagi dianggap sebagai produk kegiatan manusia yang bebas, tapi sebagai suatu peristiwa alam. 1)

Positivisme sebenarnya hanyalah bagian saja dari sejarah narasi besar pertarungan dua pahlawan peradaban; logos dan mitos. Dalam pemikiran Barat modern, pertarungan itu menjelma menjadi pertarungan antara pendekatan ala Ilmu-ilmu alam versus pendekatan lain yang tidak memiliki basis empiris. Perkembangan segi-segi material dan empiris kebudayaan modern telah menempatkan pendekatan ala ilmu-ilmu alam (sains) pada kedudukannya sebagai logos, sang protagonis, sedang cara-cara pendekatan lain dengan spekulasi metafisis-teologis tanpa basis empiris menjadi antagonisnya, mitos. 2)

Setidaknya ada tiga pengandaian dalam ilmu-ilmu sosial positivis. Pertama, prosedur-prosedur metodologis dari ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Kedua, hasil-hasil penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk hukum-hukum seperti dalam ilmu-ilmu alam. Ketiga, ilmu-ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni, netral dan bebas nilai. 3) Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: